BOJONEGORO – Sentral1.com – Desa Mori adalah salah satu desa di wilayah Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, dengan jumlah penduduk sekitar 6.000 jiwa. Di balik kehidupan masyarakatnya yang agraris dan damai, Desa Mori menyimpan kisah legenda panjang tentang asal-usul namanya, yang hingga kini masih hidup dan dipercaya secara turun-temurun.
Kisah ini bermula pada masa ketika Kadipaten Tuban masih berada di bawah kekuasaan Majapahit. Suasana tenteram di lingkungan kadipaten mendadak gempar ketika diketahui bahwa Indarti, putri sang adipati yang terkenal cantik dan menjalani masa pingitan, ternyata mengandung.
Kabar itu bagai petir di siang bolong. Sang Adipati murka. Indarti tak mampu menjelaskan siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Ia hanya mengaku sering didatangi seorang lelaki tampan dalam mimpinya, yang tak pernah menyebutkan nama, namun selalu hadir dalam mimpi-mimpi indahnya. Dari mimpi itulah, tanpa ia sadari, kehamilan itu terjadi.
Murka sang Adipati memuncak. Dengan penuh amarah ia mengusir Indarti dari Kadipaten Tuban, menganggap anak yang dikandungnya sebagai aib besar bagi kehormatan keluarga.
Dalam keadaan hamil tua dan penuh kesedihan, Indarti pergi meninggalkan Tuban. Ia berjalan ke arah selatan, menembus pegunungan kapur dan hutan jati yang masih perawan. Hingga akhirnya, di sebuah dusun kecil yang masuk wilayah Kadipaten Bojonegoro, Indarti melahirkan seorang bayi laki-laki di tengah kesunyian malam.
Konon, tempat ia melahirkan hingga kini masih ada. Tanah selebar tampah di lokasi itu tidak pernah ditumbuhi rumput meski sekelilingnya ditumbuhi rerumputan lebat.
Dalam kesedihan dan keputusasaan, Indarti bersumpah, jika kelak tempat itu menjadi perkampungan, maka akan dinamai Mori, yang berasal dari istilah Jawa “komor sing kari” yang berarti kotoran atau sisa darah melahirkan.
Dengan hati yang kalut, Indarti sempat berniat membuang bayinya. Di sebuah tempat di utara dusun, niat itu dicegah oleh seorang pencari ikan. Karena peristiwa pelarangan itu, tempat tersebut hingga kini dikenal dengan nama Dusun Penggak, yang berarti “melarang”.
Namun Indarti tetap melanjutkan niatnya. Ia menghanyutkan bayinya di bengawan menggunakan rakit dari gedebog pisang, berharap anak itu kelak ditemukan dan diasuh orang yang baik.
Tak lama kemudian, Indarti tinggal di rumah seorang tokoh dusun bernama Pak Demang. Suatu hari, ketika mencuci di bengawan, Indarti melihat rakit kecil tersangkut di akar pohon. Ternyata di dalamnya adalah bayi yang dulu ia hanyutkan. Bayi itu kemudian diasuh oleh Pak Demang dan diberi nama Joko Popok, sementara Indarti dipercaya merawatnya.
Joko Popok tumbuh menjadi anak yang rajin dan jujur. Ia menggembala kerbau milik Pak Demang. Suatu ketika Pak Demang berjanji akan memberi upah jika kerbaunya beranak bule. Di luar dugaan, keajaiban terjadi: kerbau-kerbau itu benar-benar beranak bule, hingga akhirnya Joko Popok menjadi orang kaya.
Joko Popok dan Indarti kemudian tinggal di rumah besar yang dikenal dengan sebutan Pomahan. Hingga suatu hari, Joko Popok ingin mengetahui siapa orang tua kandungnya. Indarti mengajaknya “pergi ke dunia lain”, dan sejak saat itu keduanya menghilang secara misterius atau muksa.
Sejak itulah masyarakat meyakini bahwa Indarti adalah Danyang atau leluhur penunggu Desa Mori. Bekas tempat tinggal mereka di Pomahan hingga kini masih ada dan diberi tanda berupa cungkup.
Legenda ini tidak hanya menjadi cerita rakyat, tetapi juga bagian dari identitas dan sejarah spiritual Desa Mori yang terus dijaga dan diceritakan dari generasi ke generasi.
(Ono)





