BOJONEGORO –sentral1.com – Rangkaian Kirab Api Abadi dalam rangka memperingati Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349 Tahun 2026 berlangsung meriah di Kecamatan Trucuk, Minggu (18/10/2026) sore. Kedatangan api yang diambil dari Kayangan Api, Kecamatan Ngasem, tersebut disambut antusias masyarakat dan menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus mendorong pengembangan potensi ekonomi lokal.
Kirab dimulai pukul 17.00 WIB dari Pendopo Kecamatan Malo dengan pengawalan mobil patroli Satlantas Polres Bojonegoro. Rombongan yang menggunakan tujuh mobil bak terbuka bergerak dari wilayah perbatasan Kecamatan Malo menuju Desa Kanten, Kecamatan Trucuk, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur hingga tiba di Pendopo Kecamatan Trucuk sekitar pukul 18.00 WIB.
Api Abadi dikirab oleh Kange dan Nyune Bojonegoro yang mengenakan pakaian adat serta batik bermotif Obor Sewu. Suasana semakin semarak dengan iringan kesenian tradisional Cucuk Lampah dan Tim Rontek yang menambah nuansa budaya dalam rangkaian peringatan hari jadi kabupaten tersebut.
Setibanya di halaman Kantor Kecamatan Trucuk, rombongan disambut jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Trucuk, Camat Kota, Kapolsek, Danramil, para kepala desa se-Kecamatan Trucuk, kepala instansi pemerintah, serta masyarakat setempat. Anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro dari Fraksi Gerindra, Sudiono, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Kemeriahan berlanjut melalui hiburan campursari dari Pantes Budal yang digelar di halaman kantor kecamatan. Warga tampak menikmati pertunjukan bersama keluarga, sementara pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari sejumlah desa di Kecamatan Trucuk turut meramaikan kegiatan tersebut.

Kehadiran UMKM diharapkan menjadi sarana promosi produk lokal sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat. Dengan demikian, perayaan HJB tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.
Camat Trucuk, Adi Santoso, saat ditemui Media ini menyampaikan harapannya semangat peringatan HJB ke-349 sejalan dengan upaya mewujudkan Bojonegoro yang adil dan makmur, khususnya melalui pemerataan pembangunan hingga ke wilayah kecamatan dan desa.
Saat ditemui di kantornya, Adi menekankan pentingnya peningkatan kualitas infrastruktur jalan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas.
Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada pemerataan, tetapi juga perlu diikuti peningkatan kualitas sehingga mampu menunjang mobilitas warga dan aktivitas perekonomian.
Ia juga menyoroti pembangunan jembatan penghubung Desa Sranak dan Desa Banjarsari sebagai salah satu kemajuan yang dinilai penting bagi konektivitas antarwilayah.
Keberadaan jembatan tersebut diharapkan semakin memudahkan akses masyarakat, memperlancar hubungan antardesa, serta membuka peluang pengembangan berbagai potensi yang ada di Kecamatan Trucuk.
Selain infrastruktur, Adi turut menyoroti pentingnya pengembangan UMKM dan pemanfaatan berbagai kegiatan pemerintah kabupaten sebagai kesempatan untuk memperkenalkan potensi lokal.
Menurutnya, potensi ekonomi masyarakat perlu terus dikembangkan agar pembangunan infrastruktur dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan warga.
Kirab Api Abadi merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Bojonegoro ke-349 Tahun 2026 yang mengusung tema resmi “Berdaya Saing dan Bertransformasi Menuju Bojonegoro Adil dan Makmur”.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Api Abadi dijadwalkan singgah di empat kecamatan, yakni Ngasem, Kalitidu, Malo, dan Trucuk. Penyelenggaraan kegiatan di sejumlah wilayah ini diharapkan dapat memperluas pemerataan hiburan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
Pengamanan kirab di wilayah Kecamatan Trucuk melibatkan tiga personel Polri, dua personel TNI, dan tiga personel Satpol PP. Secara keseluruhan, perjalanan rombongan dari Pendopo Kecamatan Malo menuju Pendopo Kecamatan Trucuk berlangsung tertib, aman, dan lancar.
Melalui tradisi Kirab Api Abadi, peringatan HJB ke-349 diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga memperkuat persatuan masyarakat, melestarikan seni budaya daerah, mendukung pelaku UMKM, serta mendorong pembangunan yang semakin merata demi terwujudnya Bojonegoro yang adil dan makmur.(Bud)










